Selasa, 23 April 2019

Apakah Hidup ini adalah Penderitaan?


Saat saya memelajari “Empat Kebenaran Mulia” (cattāri ariyasaccāni), poin pertama dari kebenaran tersebut adalah mengenai adanya penderitaan (dukkhā), atau diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi duka. Penderitaan ini muncul di dalam kehidupan setiap manusia dan bahkan setiap makhluk hidup. Anda pasti pernah mengalami kejadian-kejadian menyedihkan, dan saya juga. Dan Buddha mengatakan bahwa inilah kebenaran: terdapat penderitaan dalam kehidupan kita, dan saat ini kita juga sedang menderita!

Sebagian orang kemudian menginterpretasikan poin pertama dari kebenaran mulia ini sebagai “hidup adalah penderitaan”. Tentu kalimat ini perlu ditelaah lebih jauh lagi. Bila hidup adalah penderitaan, lantas apakah penderitaan ini tidak bisa kita hindari? Dan bila demikian, lantas untuk apa kita hidup? Apakah Buddha memandang hidup ini dengan begitu pesimis?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sempat menimbulkan ragu pada diri saya pada saat itu. Sebab, di kala guru-guru lain mengajarkan kehidupan dengan pendekatan optimis, - bahwa pada akhirnya kita akan bahagia, bahwa akhir dari kehidupan adalah indah bila kita mengikuti ajaran guru tersebut, dan bahwa kita akan mendapatkan pemaafan – guru Buddha justru mengajarkan dalam hidup ini terdapat penderitaan! Sesedih itukah?

Namun seiring dengan berbagai pembelajaran yang saya peroleh dari guru-guru saya yang lain, maka pemahaman yang pesimis inipun memudar. Tentu saja, Buddha tidak mengajarkan pesimisme kepada murid-muridnya; pun beliau tidak mengajarkan optimisme. Buddha tidak mengatakan bahwa hidup ini sepenuhnya sia-sia dan juga tidak menjanjikan bahwa kita akan kekal gembira bersukacita. Pendekatan Buddha adalah pendekatan di tengah keduanya, yakni memandang hidup ini secara realistis.

Bukan mengajarkan kita untuk menjadi seorang yang pesimis maupun optimis, tetapi realistis.

Dan makanya Buddha memberitahu kita sebuah kenyataan yang penting terlebih dahulu, bahwa, hei, ada penderitaan! Apa buktinya? Bukankah ketika kita sakit secara fisik, kita sedang menderita? Saya pernah mengalami sakit gigi, dan sakit gigi itu rasanya menyakitkan bukan main! Itu baru sakit gigi. Masalahnya, siapa yang seumur hidup tidak pernah sakit? Sakit itu pasti! Dan setelah kita sembuhpun, kita masih bisa sakit!

Itu baru satu jenis penderitaan, yang terjadi secara fisik. Ada lagi jenis penderitaan yang kedua, yakni penderitaan yang muncul karena perubahan (viparinama dukkha). Misalnya ketika kita berpisah dengan orang yang kita cintai, gagal mendapatkan apa yang kita inginkan, harus berhadapan dengan sesuatu yang kita tidak inginkan, dan sebagainya. Kita merasa sudah nyaman hidup bersama seseorang dan ingin hidup bersama dengannya. Tetapi karena hidup ini terus mengalami perubahan, mau tidak mau kita harus berpisah. Rasanya juga menyakitkan! Itulah mengapa banyak orang yang mengalami kesedihan ketika mengalami putus cinta, ada sanak saudara yang meninggal, dan sebagainya. Bahkan tak jarang saya mendengar kasus perpisahan yang membuat orang sampai mengalami depresi. Dan pertanyaannya, kita semua pasti akan berpisah dengan orang yang kita cintai, cepat atau lambat.

Buddha menyampaikan sebuah kenyataan. Penderitaan ini bukan diciptakan oleh Buddha. Penderitaan ini adalah alamiah, terjadi memang karena demikianlah alam semesta bekerja. Inilah realita.

Tetapi, meskipun dalam hidup ini terdapat penderitaan, bukan berarti hidup ini adalah penderitaan. Haemin Sunim, seorang bhiksu Zen asal Korea, dalam ceramahnya di Talks at Google, menjelaskan hal ini.  Hidup itu sendiri bukanlah penderitaan. Dalam hidup ini, segala sesuatu selalu berubah, berkondisi, dan tidak kekal. Penderitaan muncul karena kita tidak memahami hal tersebut dan melekat kepada kondisi dunia ini. Ketika kita melekati, katakanlah, kita menaruh kebahagiaan pada harta benda dan ketika harta benda itu pergi, maka kita akan menderita. Melekati berarti menyenangi suatu objek dan menaruh kebahagiaan kita pada objek tersebut. Kita menganggap bahwa kita hanya dapat bahagia apabila objek itu ada dan kita terus menganggap objek itu akan terus bersama kita. Pasalnya, semua objek di dalam kehidupan ini tidaklah kekal. Bila kita melekati objek tersebut dan suatu hari objek itu menghilang, maka kita akan menderita.

Oleh sebab itu, Buddha menyarankan agar kita menyadari kebenaran ini! Semuanya akan pergi dan menghilang. Dan ketika kita melekati objek-objek yang ada di dalam dunia ini, kita akan mengalami penderitaan!

Lalu, apakah artinya kita tidak boleh menyenangi objek-objek yang ada? Apakah kita tidak boleh bergembira, tidak boleh menggunakan ponsel, tidak boleh menonton Youtube, tidak boleh mendengarkan musik, tidak boleh menyayangi seseorang, dan sebagainya?

Haemin Sunim melanjutkan, bahwa kita boleh saja merasakan kesenangan dari objek-objek eksternal tersebut, tetapi rasa senang itu juga harus disertai dengan kesadaran bahwa sumber-sumber kesenangan ini akan pergi pada suatu saat. Artinya, saya boleh-boleh saja merasa senang ketika berada di dekat orang-orang yang saya sayangi, tetapi saya juga harus tahu bahwa suatu hari perpisahan itu akan datang; sehingga ketika tiba waktunya untuk berpisah, saya tidak akan terlalu menderita. Artinya, saya boleh-boleh saja merasa senang memiliki ponsel yang lumayan canggih dan penuh hiburan, tetapi saya juga harus sadar bahwa saya tidak mungkin bersama dengan ponsel ini secara terus-menerus. Ketika saya berada jauh dari ponsel, misalnya ketika sedang rapat atau mengikuti retreat, bisakah saya tidak memikirkannya dan fokus pada aktivitas yang ada di depan saya?

Oleh sebab itulah kesadaran atau mindfulness sangat disarankan oleh Sang Buddha, bahkan menjadi salah satu ajaran terpenting dalam Buddhisme.

Jadi, Buddha mengajarkan hidup ini secara realistis. Dalam hidup ini ada penderitaan, dan kita akan ikut menderita bila melekati kehidupan ini! Sedang di sisi lain, kita tidak mungkin hidup sendiri dan menjauhi segala objek yang ada di sekitar kita. Jalan yang Buddha ajarkan adalah hidup berkesadaran. Jalani dengan seharusnya dan sadari bahwa semuanya pun akan berlalu.

Lebih jauh lagi, Buddha juga sebenarnya mengajarkan bahwa selain terdapat penderitaan, di dalam kehidupan ini juga terdapat akhir dari penderitaan. Buddha ajarkan secara mendalam, lengkap dengan cara-cara untuk mengakhiri penderitaan ini.

Bukankah itu sangat realistis?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar