Saat saya memelajari “Empat
Kebenaran Mulia” (cattāri ariyasaccāni), poin
pertama dari kebenaran tersebut adalah mengenai adanya penderitaan (dukkhā), atau diserap ke dalam Bahasa
Indonesia menjadi duka. Penderitaan ini muncul di dalam kehidupan setiap
manusia dan bahkan setiap makhluk hidup. Anda pasti pernah mengalami
kejadian-kejadian menyedihkan, dan saya juga. Dan Buddha mengatakan bahwa
inilah kebenaran: terdapat penderitaan dalam kehidupan kita, dan saat ini kita
juga sedang menderita!
Sebagian orang kemudian
menginterpretasikan poin pertama dari kebenaran mulia ini sebagai “hidup adalah
penderitaan”. Tentu kalimat ini perlu ditelaah lebih jauh lagi. Bila hidup
adalah penderitaan, lantas apakah penderitaan ini tidak bisa kita hindari? Dan
bila demikian, lantas untuk apa kita hidup? Apakah Buddha memandang hidup ini
dengan begitu pesimis?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut
sempat menimbulkan ragu pada diri saya pada saat itu. Sebab, di kala guru-guru
lain mengajarkan kehidupan dengan pendekatan optimis, - bahwa pada akhirnya
kita akan bahagia, bahwa akhir dari kehidupan adalah indah bila kita mengikuti
ajaran guru tersebut, dan bahwa kita akan mendapatkan pemaafan – guru Buddha
justru mengajarkan dalam hidup ini terdapat penderitaan! Sesedih itukah?
Namun seiring dengan berbagai
pembelajaran yang saya peroleh dari guru-guru saya yang lain, maka pemahaman
yang pesimis inipun memudar. Tentu saja, Buddha tidak mengajarkan pesimisme
kepada murid-muridnya; pun beliau tidak mengajarkan optimisme. Buddha tidak
mengatakan bahwa hidup ini sepenuhnya sia-sia dan juga tidak menjanjikan bahwa
kita akan kekal gembira bersukacita. Pendekatan Buddha adalah pendekatan di tengah
keduanya, yakni memandang hidup ini secara realistis.
Bukan mengajarkan kita untuk
menjadi seorang yang pesimis maupun optimis, tetapi realistis.
Dan makanya Buddha memberitahu
kita sebuah kenyataan yang penting terlebih dahulu, bahwa, hei, ada penderitaan! Apa buktinya? Bukankah ketika kita sakit
secara fisik, kita sedang menderita? Saya pernah mengalami sakit gigi, dan
sakit gigi itu rasanya menyakitkan bukan main! Itu baru sakit gigi. Masalahnya,
siapa yang seumur hidup tidak pernah sakit? Sakit itu pasti! Dan setelah kita
sembuhpun, kita masih bisa sakit!
Itu baru satu jenis penderitaan,
yang terjadi secara fisik. Ada lagi jenis penderitaan yang kedua, yakni
penderitaan yang muncul karena perubahan (viparinama
dukkha). Misalnya ketika kita berpisah dengan orang yang kita cintai, gagal
mendapatkan apa yang kita inginkan, harus berhadapan dengan sesuatu yang kita
tidak inginkan, dan sebagainya. Kita merasa sudah nyaman hidup bersama
seseorang dan ingin hidup bersama dengannya. Tetapi karena hidup ini terus
mengalami perubahan, mau tidak mau kita harus berpisah. Rasanya juga
menyakitkan! Itulah mengapa banyak orang yang mengalami kesedihan ketika
mengalami putus cinta, ada sanak saudara yang meninggal, dan sebagainya. Bahkan
tak jarang saya mendengar kasus perpisahan yang membuat orang sampai mengalami
depresi. Dan pertanyaannya, kita semua pasti akan berpisah dengan orang yang
kita cintai, cepat atau lambat.
Buddha menyampaikan sebuah
kenyataan. Penderitaan ini bukan diciptakan oleh Buddha. Penderitaan ini adalah
alamiah, terjadi memang karena demikianlah alam semesta bekerja. Inilah
realita.
Tetapi, meskipun dalam hidup ini
terdapat penderitaan, bukan berarti hidup ini adalah penderitaan. Haemin Sunim,
seorang bhiksu Zen asal Korea, dalam ceramahnya di Talks at Google, menjelaskan
hal ini. Hidup itu sendiri bukanlah
penderitaan. Dalam hidup ini, segala sesuatu selalu berubah, berkondisi, dan
tidak kekal. Penderitaan muncul karena kita tidak memahami hal tersebut dan melekat
kepada kondisi dunia ini. Ketika kita melekati, katakanlah, kita menaruh
kebahagiaan pada harta benda dan ketika harta benda itu pergi, maka kita akan
menderita. Melekati berarti menyenangi suatu objek dan menaruh kebahagiaan kita
pada objek tersebut. Kita menganggap bahwa kita hanya dapat bahagia apabila
objek itu ada dan kita terus menganggap objek itu akan terus bersama kita.
Pasalnya, semua objek di dalam kehidupan ini tidaklah kekal. Bila kita melekati
objek tersebut dan suatu hari objek itu menghilang, maka kita akan menderita.
Oleh sebab itu, Buddha
menyarankan agar kita menyadari kebenaran ini! Semuanya akan pergi dan
menghilang. Dan ketika kita melekati objek-objek yang ada di dalam dunia ini,
kita akan mengalami penderitaan!
Lalu, apakah artinya kita tidak
boleh menyenangi objek-objek yang ada? Apakah kita tidak boleh bergembira,
tidak boleh menggunakan ponsel, tidak boleh menonton Youtube, tidak boleh
mendengarkan musik, tidak boleh menyayangi seseorang, dan sebagainya?
Haemin Sunim melanjutkan, bahwa
kita boleh saja merasakan kesenangan dari objek-objek eksternal tersebut,
tetapi rasa senang itu juga harus disertai dengan kesadaran bahwa sumber-sumber
kesenangan ini akan pergi pada suatu saat. Artinya, saya boleh-boleh saja
merasa senang ketika berada di dekat orang-orang yang saya sayangi, tetapi saya
juga harus tahu bahwa suatu hari perpisahan itu akan datang; sehingga ketika
tiba waktunya untuk berpisah, saya tidak akan terlalu menderita. Artinya, saya
boleh-boleh saja merasa senang memiliki ponsel yang lumayan canggih dan penuh
hiburan, tetapi saya juga harus sadar bahwa saya tidak mungkin bersama dengan
ponsel ini secara terus-menerus. Ketika saya berada jauh dari ponsel, misalnya
ketika sedang rapat atau mengikuti retreat,
bisakah saya tidak memikirkannya dan fokus pada aktivitas yang ada di depan
saya?
Oleh sebab itulah kesadaran atau mindfulness sangat disarankan oleh Sang
Buddha, bahkan menjadi salah satu ajaran terpenting dalam Buddhisme.
Jadi, Buddha mengajarkan hidup
ini secara realistis. Dalam hidup ini ada penderitaan, dan kita akan ikut
menderita bila melekati kehidupan ini! Sedang di sisi lain, kita tidak mungkin
hidup sendiri dan menjauhi segala objek yang ada di sekitar kita. Jalan yang
Buddha ajarkan adalah hidup berkesadaran. Jalani dengan seharusnya dan sadari bahwa
semuanya pun akan berlalu.
Lebih jauh lagi, Buddha juga
sebenarnya mengajarkan bahwa selain terdapat penderitaan, di dalam kehidupan
ini juga terdapat akhir dari penderitaan. Buddha ajarkan secara mendalam,
lengkap dengan cara-cara untuk mengakhiri penderitaan ini.
Bukankah itu sangat realistis?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar